time is running out -muse
Saya sedang duduk menunggu di koridor fakultas. Sambil baca buku judulnya ‘a Cat in My Eyes’. Dalam satu bab dalam buku itu, sang penulis membahas, mengupas, mendefinisikan waktu. Lalu, saya berpikir bahwa, setiap orang memang bebas mendefinisikan apapun, bebas menempelkan eksistensi dari esensi apapun. Berarti saya juga boleh mendefinisikan apa waktu itu. Einstein sudah bicara panjang lebar mengenai relativitas waktu. Waktu yang dapat memulur atau menyusut sesuai dengan mood, presepsi, gagasan, dan lain2 dari si objek yang berada dalam dimensi waktu.
Lantas, kalo saya memang boleh mendefinisikan apa waktu itu,,
waktu adalah gerak. Selama masih ada gerakan sehalus apapun itu, dari partikel terkecil sekalipun, maka waktu masihlah ada.
Bayangkan seisi bumi ini diam. Tak ada pertumbuhan sel sekecil apapun. Beku. adakah waktu? ada. selama semesta masih bertawaf. Masih ada sebelum dan sesudah.
Kini bayangkan seluruh semesta diam beku, seluas kamu bisa berpikir tentang keluasan semesta tak berhingga itu mematung. adakah waktu? tidak. Gerak berhenti, maka waktu pun berhenti. Sebaliknya, kendatipun semesta berhenti bertawaf, namun masih ada sesel bakteri yang membelah diri, maka waktupun masih ada.
Ketika tiada lagi objek di dunia. Bahkan ketika duniapun sudah tak ada, masih adakah waktu?
Betapa sempit ruang otak manusia dan betapa kerdilnya loncatan sel-sel dalam otak manusia untuk bisa berpikir sampai kesana..
betapa kecil kita..
Do not forget to subscribe to this blogs RSS feed!

Leave a Reply